INDONESIA SUKSES TAMBAH SEJUTA AKSEPTOR KB DALAM SEHARI DAN FOKUS TURUNKAN ANGKA PERNIKAHAN USIA ANAK

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Jakarta (01/07/2020) – Gerakan “Pelayanan KB Serentak Sejuta Akseptor” pada Senin, 29 Juni 2020 berhasil meningkatkan jumlah akseptor KB di seluruh Indonesia lebih dari sejuta akseptor (lihat bit.ly/dashboardharganas). Kegiatan tersebut merupakan inisiatif BKKBN yang dilaksanakan dalam rangka peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) Ke-27 Tahun 2020. Pelayanan KB tersebut melibatkan berbagai pihak dan mitra kerja BKKBN serta dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan yaitu Puskesmas, Praktek Mandiri Bidan (PMB), Rumah Sakit, Pelayanan bergerak dan lain-lain di seluruh Indonesia.

“Kalau dulu angka MKJP dan non MKJP semua di Maret dan April 2020 turun, tetapi kemudian di bulan Mei agak beranjak naik sedikit. Kita juga lihat yang ganti cara di April turun tajam, kemudian gerakan bersama bidan dan PKB dengan gerakan ‘Sejuta Akseptor’ dengan Bupati Walikota semua kita gerakkan akhirnya naik. Jadi tanpa ada penggerakan yang massif saya kira sulit. Harus kita sengajakan memang harus betul-betul dengan cara yang luar biasa. Maka kami terima kasih sekali lagi gerakan serentak sejuta akspetor gratis kemarin sehari di tanggal 29 Juni sebagai Hari Keluarga yang ke-27 bisa jadi bagian dari local genius kita Indonesia dimana kita punya prinsip gotong royong,” jelas Hasto dalam Webinar “The New Normal for Midwives, Women and Families” yang diselenggarakan oleh Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palangkaraya melalui aplikasi Zoom Meeting (01/07).

Hasto berharap bahwa dalam merayakan hari nasional tentu lebih baik yang merakyat dan menjangkau semua pelosok dengan melibatkan semua lintas sektor dan bermanfaat bagi seluruh rakyat Indonesia. Acara “Pelayanan KB Sejuta Akseptor” melibatkan para bidan, dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Hasto mengucapkan banyak terima kasih kepada para bidan dan dokter yang bersedia menjadi volunteer dalam sehari tanpa memakai jasa medis, berbakti untuk negeri dan menjadi pengabdi masyarakat untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia. Juga kepada para tokoh masyarakat dan selebritis yang bersedia memberikan kontribusinya untuk menyosialisasikan program Bangga Kencana pada Hari Keluarga Nasional Ke-27.

Selain itu, Hasto juga mengajak para remaja untuk tetap memperhatikan kesehatan reproduksi demi masa depan mereka apalagi di masa pandemi ini. Maraknya pernikahan usia anak masih banyak terjadi di Indonesia khususnya di desa. Menurut Hasto data kehamilan remaja memang menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun tetapi masih perlu perjuangan untuk dicegah dan jumlahnya di pedesaan lebih tinggi daripada di perkotaan. Angka fertilitas kelompok usia muda ASFR (Age Specific Fertility Rate) usia 15-19 tahun yang sudah pernah melahirkan adalah sebesar 36 per 1000 wanita. Hal ini dapat meningkatkan jumlah kematian ibu dan kematian bayi ketika kehamilan terjadi pada usia remaja. Kemudian juga aborsi ilegal akan meningkat serta dampak-dampak lainnya. Kondisi remaja masih banyak yang mengalami anemia sehingga ini bisa membahayakan bagi para remaja perempuan untuk hamil di usianya. Para remaja perempuan memang sudah bisa hamil tetapi sebetulnya belum siap untuk dihamili. Karena pertumbuhan tulangnya belum selesai, perlu tambah tinggi, tambah padat, dan seterusnya.

“Sebetulnya dampak dari akibat dari nikah dini itu banyak. Secara sosial, ekonomi, perceraian juga masih sering terjadi karena di rumah tangga sering ada KDRT, ada percekcokan dan seterusnya. Sehingga di situ juga mengadakan adanya kematian ibu, ada kehamilan di usia yang sangat muda,” tambah Hasto. Penikahan remaja kebanyakan dialami oleh para remaja dengan pendidikan yang rendah, yang melakukan perilaku seks bebas, masalah ekonomi juga mendorong para remaja ingin segera menikah, budaya kawin muda, pernikahan yang diatur oleh orang tua dan juga hamil di luar nikah.

Hasto selalu menekankan betapa pentingnya merencanakan kehamilan. Menurutnya usia normal perempuan untuk hamil dengan kondisi yang sehat adalah pada usia 20 tahun paling cepat dan 35 tahun paling akhir. BKKBN selalu mengampanyekan 4 Terlalu, yaitu jangan terlalu muda, jangan terlalu tua, jangan terlalu banyak jangan lebih dari 2, dan jangan terlalu dekat jaraknya jangan kurang dari 2 tahun untuk hamil ke hamil berikutnya agar tidak terjadi stunting. Selain itu Hasto juga menekankan 3 jangan yaitu, jangan hamil kalau tidak terencana, jangan telantarkan kehamilan, kemudian yang ketiga jangan bikin anak kalau hanya sia-sia artinya tidak serius, tidak dirawat, tidak dipikirkan masa depannya.

Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan dr. Erna Mulati, M.Sc. CMFM dalam kesempatan yang sama menghimbau para wanita usia subur (WUS) untuk menunda dan merencanakan kehamilan dengan baik sampai kondisi pandemi berakhir dengan memperhatikan apakah siap untuk hamil dan kemudahan akses mendapatkan pelayanan yang berkualitas.

Webinar Nasional “The New Normal for Midwifes, Women and Families” diselenggarakan oleh Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palangka Raya pada Rabu, 1 Juni 2020 melalui aplikasi Zoom meeting dan disiarkan langsung di akun Youtube Poltekkes Kemenkes Palangka Raya. Narasumber pada acara tersebut adalah Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K), Direktur Kesehatan Keluarga Kemenkes RI dr. Erna Mulati, M.Sc. CMFM, dan Ketua Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia Dr. Emi Nurjasmi, M.Kes. Peserta webinar yang berpartisipasi melalui zoom adalah sebesar 514 orang sedangkan yang melihat siaran langsung melalui youtube adalah sebesar 37.395 orang. (Humas)