Kampung KB Dalam Rekayasa Sosial

Opini Keluarga Berencana di Indonesia pada awalnya muncul setelah terjadi banyak kematian bayi (infant mortality rate) dan kematian ibu waktu hamil tua dan ketika melahirkan (maternal mortality rate). Maka disaat itulah inisiatif pemakaian alat kontrasepsi mulai dianjurkan oleh para dokter yang tergabung dalam Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) sebagai embrio BKKBN.

 

Walaupun demikian, pada masa itu rezim Orde Lama tidak sepenuhnya menyetujui keluarga berencana karena penduduk Indonesia hanya sekitar sepertiganya dari penduduk Indonesia sekarang yang berjumlah kurang lebih 250 juta. Diperkuat lagi dengan luas daerah Indonesia dari Sabang sampai Merauke dengan alamnya yang subur ditumbuhi hutan yang luas, kandungan bumi yang kaya dengan minyak, emas dan batu bara membuat pemerintah pada waktu itu pronatalis. Akan tetapi apa yang telah terjadi, dengan tingkat kesuburan tanah yang tinggi angka kelahiran mulai terjadi bahkan sangat meluas terutana sekkitar Jawa Barat. Hingga kini penduduk provinsi Pasundan itu merupakan penduduk yang terbanyak di Indonesia. Kemudian disusul oleh provinsi-provinsi lain di negeri ini.

 

Dilihat dari angka pertumbuhan (annual population growth rate)  serta pertambahan penduduk Indonesia setiap empat puluh tahun sekali penduduk mengalami dua kali lipat pertumbuhan (doubling time population). Sedang menurut teori dmeografi pertumbuhan yang ideal itu adalah dalam kurun waktu 75 sampai dengan 100 tahun seperti di negara Eropa sekarang. Tetapi tidak demikian halnya dengan Indonesia karena Indonesia melahirkan sekitar 4 jutaan jiwa tiap tahun, yang dikatakan seolah-olah membuat sebuah negara baru, padahal apabila tidak direkayasa kependudukannya, kita tak akan mampu mengurus sebesar penduduk yang terbilang nomor 4 terbesar di dunia setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Cina mengatur kelahiran selama hampir setengah melalui kebijakan satu anak (one child policy) namun tiga tahun belakangan sudah berakhir karena diterpa masalah aborsi, preferensi gender anak laki-laki dan kerusakan budaya. Sementara di AS permasalahan kuantitas dan kualitas penduduk dapat diatasi dengan kekayaan negaranya. Sementara kita masih banyak menanggung banyak anak banyak hutang (bukan banyak anak banyak rezeki).

 

Kesadaran terus tumbuh hingga awal orde baru 1969, dibentuk Lembaga Keluarga Berencana (LKBN) kemudian berubah menjadi BKKBN. Penduduk yang sudah terlanjur berlipat ganda mulai ditata dan direkayasa. Pengendalian kelahiran (birth control)  diperhalus menjadi pengaturan kelahiran, namun masih terkesan adanya pemaksaan pemakaian alat kontrasepsi. Setelah ditanggapi dengan baik, penyuluhan program KB di lapangan terasa sejuk dan nyaman karena tidak lagi terkesan mencari akseptor baru, tetapi memberi penyuluahn. Walaupun demikian ketika itu masih demam target pemakaian akseptor yang ditempuh juga oleh agen KB dengan cara motivasi, motivasi bukan solusi.

 

Dinamika piramida penduduk Indonesia tak lagi statis melainkan akhirnya berubah menjadi ideal yakni presentasi kelompok anak mengecil, kohot dewasa yang produktif meningkat, sementara lansia mulai bertambah pula. Indonesia akan menuai bonus demografi dalam waktu dekat. Keberuntungan akan diperoleh ketika anak-anak kita yang produktif telah menanggung beban sedikit lebih kecil karena mereka diharapkan sebagian besar sudah akan memiliki pekerjaan apabila pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan yang seluas-luasnya lebih-lebih ditunjang dengan tingkat pendidikan yang berkualitas.

 

Untuk membangun negara yang tangguh dan mandiri tidak terlepas jua dari kuantitas dan kualitas penduduk. Kualitas penduduk yang ideal dimulai dari penataan kuantitas penduduk. Untuk menurunkan angka pertumbuhan penduduk dan mengerem laju pertumbuhannya tentunya dimulai dari pengaturan kelahiran melalui kesertaan dalam keluarga berencana. Tetapi di jaman sekarang yang masih menjadi tantangan program keluarga berencana adalah : 1. Masih ada opini memiliki anak lebih dari 2 bahkan ada yang memiliki anak 4, 5, dst. Pada poin ini dianjurkan agar agen keluarga berencana menjadi contoh teladan dan pelopor 2 anak; 2. Masih terdapat kawin muda sekitar usia 15 tahun terutama di Kalimantan Selatan dikarenakan keinginan orang tua dan ‘kecelakaan’ pada remaja putri, sehingga diperlukan perhatian khusus pada tokoh agama dan tokoh adat; 3. Alat kontrasepsi seperti pil, suntik, IUD dan implan masih belum sepenuhnya memberikan rasa aman dan nyaman, hal ini diperlukan sinergitas paramedis, dokter serta agen-agen kesehatan dan KB; 4. Penting adanya jaminan pasca kontrasepsi.

 

Kampung KB merupakan sebuah rekayasa sosial agar terutama masyarakat desa lebih dekat lagi dengan opini keluarga berencana yang dikhawatirkan mulai digerus arus informasi yang ebbas. Kampung KB sebagai tempat berkumpul masyarakat untuk mendapatkan informasi akurat tentang keluarga berencana dan keluarga sejahtera. Pelatihan Kampung KB bagi Kepala Desa, Kader Desa dan masyarakat merupakan salah satu unsur yang sangat menunjang keberadaan kampung KB tidak sekedar rekayasa sosial.

 

Ditulis Oleh :

Drs. Abdul Munir

(Pemerhati Sosial)